Love in Oil City
Detail Produk Love in Oil City
Cermin di kamar mandi itu kusam, tapi masih cukup jelas untuk memantulkan wajah yang mulai kubenci. Ada lebam ungu di sudut bibir, sisa perkelahian semalam yang—sialnya—bahkan tak lagi kuingat pemicunya.
Orang-orang di luar sana mungkin menatap wajah ini dengan rasa takut atau segan. Mereka menyebutku “Jagoan”. Mereka memanggilku “Saudara” saat butuh perlindungan. Tapi di sini, di bawah sorot lampu kuning yang remang-remang, aku hanya melihat seorang pecundang.
Aku membasuh wajah dengan kasar. Air dingin menampar kulitku, tapi tidak cukup kuat untuk melunturkan rasa muak yang menggumpal di dada.
Mau sampai kapan?
Pertanyaan itu terus berdenging di kepala, lebih nyaring dari teriakan lawan-lawanku. Hidupku rasanya seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang. Bangun, mencari masalah, tertawa kosong di tongkrongan, lalu pulang membawa kehampaan yang sama. Tidak ada arah. Tidak ada tujuan. Hanya hari-hari yang dibakar sia-sia.
Aku menatap lurus ke dalam mataku sendiri di pantulan kaca. Tatapan itu terlihat lelah. Kosong. Tanganku mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku-buku jariku memutih. Aku menginginkan lebih dari sekadar hidup yang “begini-begini saja”. Aku ingin hidup yang punya arti. Aku ingin berhenti menjadi tokoh antagonis dalam ceritaku sendiri.
“Tuhan …,” bisikku pada sepi yang menggantung di udara. Suaraku parau, terdengar asing di telingaku sendiri.
“Jika memang masih ada jalan pulang untuk orang sepertiku, tolong tunjukkan. Beri aku satu alasan untuk berubah. Satu saja.”
Aku tidak tahu apakah Tuhan mendengarkan doa seseorang sepertiku. Tapi malam itu, aku benar-benar berharap ada sesuatu—atau seseorang—yang akan datang dan memutar kemudi hidupku ke arah yang benar.
Penulis : Rico Revandy
Cover : Softcover
Jenis : Novel
Hal : vi+115 halaman
Penerbit : CV. Pena Borneo
